Lereng Hijau dan Kuat…Why Not?

Februari 22, 2008

Seperti yang kita ketahui dalam perkuatan lereng ada beberapa metode yang dikembangkan, yaitu pemasangan trucuk (bow pile), pemotongan sudut lereng, pengatusan muka air tanah, pembuatan dinding penahan lereng (retaining wall), dan geotekstil.

Seperti yang diungkapkan dalam sebuah blog Abi Ananda Rasyid dalam tulisannya yang berjudul Oleh-oleh Taiwan Geotechnical Society Conference: “Keep Our Slope Safe and Green” sudah saatnya kita lebih mengembangkan pada konsep pengamanan lereng dengan geotekstil.

 

Kenapa??

 

Karena dengan geotekstil, dimungkinkan lereng akan tetap hijau, karena proses pemasangan geotekstil dapat diselingi dengan adanya tanaman (tentunya tanaman khusus) .Indonesia terkenal dengan keberanekaragaman tanamannya, maka hal tersebut bisa menjadi obyek penelitian, dimana para ahli pertanian/biologi dapat memilih tanaman yang perakarannya dapat menunjang perkuatan lereng, dan para ahli geoteknik dapat menentukan pola penanaman yang paling optimal .

 

Lets Go To Do That Research…!!!!

 

Arifan Jaya Syahbana


Hemat atau boros…???

Februari 21, 2008

Bagaimana menurut Anda dengan perbandingan di bawah ini :

  1. Jajan siang dengan tidak jajan siang
  2. Makan malam dengan tidak makan malam
  3. Naik kereta eksekutif dengan kereta bisnis
  4. Makan 3 kali sehari dengan makan 1 kali sehari

 

Sering kita terjebak dengan mengatakan jajan siang, makan malam, naik kereta eksekutif, makan 3 kali sehari, akan lebih boros dibandingkan dengan perbandingannya masing-masing di atas. Hal tersebut wajar dan memang begitu jika kita memandang dari aspek KEKINIAN, tapi mari penulis mengajak pembaca untuk mengubah paradigma kita, sudut pandang kita.

 

Jajan siang, Anda katakan boros..iya jika dipandang dengan sudut pandang kekinian, tapi jika kita melihat besok-besoknya (paradigma kemasadepanan), ternyata ada sebagian dari orang yang mengalami maag jika tidak makan siang/jajan siang..nah bisa ditebak, biaya yang diperlukan untuk pengobatan ternyata jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan uang yang harus ia keluarkan untuk jajan siang tersebut.

 

Sama halnya dalam kasus makan malam dan makan 3 kali sehari. Analoginya dapat kita samakan dengan kasus jajan siang.

 

Kemudian naik kereta bisnis, secara sepintas memang harga tiket lebih murah, akan tetapi mari kita tengok lebih dalam dan lebih jauh, bagaimana jika dalam kereta bisnis ini Anda membawa harta yang berharga (misal laptop keluaran terbaru, atau HP Nokia E 90 yang harganya membuat orang miskin tak ingin membayangkan memilikinya, karena hanya  membuat ingin berhayal saja dan semakin sakit untuk menjalani hidup yang ternyata jauh banget dari yang dikhayalkannya) dan tiba-tiba dicuri dalam kerumunan disaat para pedagang asongan masuk menawarkn dagangannya? Bisa ditebak lagi, binggooooo.. Anda kehilangan jauuuh lebih besar dari yang Anda hemat dari selisih harga tiket..

 

Nah, sekarang bagaimana penilaian Anda? Hemat atau boros??

Percaya ga percaya silakan timbang-timbang keputusan Anda sendiri..

 

 

Salam hangat

Arifan Jaya Syahbana


Malas…mau ngapa-ngapain…@%$#&*!!

Februari 20, 2008

Wahyu, sebut saja demikian..seorang pegawai negeri yang baru, belum paham benar mengenai apa yang harus dilakukan. Ia lebih memilih duduk diam di ruangannya sambil melihat-lihat emailnya, tak lupa ia mengaktifkan yahoo messenger nya supaya ia bisa ngobrol (wekekek..mirip banget sama penulis :p)

Tak jauh beda dengan Siti, mahasiswi sebuah perguruan tinggi terkenal di sebuah daerah. Ia telah lulus dan sekarang menjadi jobseeker. Ternyata dia baru menyadari bahwa IP yang tinggi yang telah diraihnya hanya mampu membantu sedikit dalam melamar pekerjaan yang dia inginkan, (yaitu sebatas meluluskan dia pada saringan awal).
Siti merupakan sosok mahasiswi idealis, ia ingin mendapatkan pekerjaan yang aman baginya. Tak tanggung tanggung ia telah menyelesaikan S2 dengan hasil cumlaude. Akan tetapi lingkungan yang sekarang ia hadapi berkata lain, yang dibutuhkan ternyata bukan IP tinggi, tapi bisa dikatakan IP yang biasa dan seabreg requirements laen yang ia tak dapatkan di bangku kuliahnya..

Hal ini pernah diamati Darmaningtyas (Kompas, 9 Februari 2008), bahwa ternyata lulusan dunia pendidikan sekarang mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan sedangkan para pencari tenaga kerja mengeluhkan sulitnya mencari tenaga kerja.

Lah kok Bisa?? Tanya Kenapa…(pinjam bahasanya Sophian Effendi ;D)

Ternyata apa yang dimiliki para lulusan tenaga kerja tidak semuanya dibutuhkan oleh para tenaga kerja, malah bisa dikatakan para pencari tenaga kerja membutuhkan hal yang lain dari para tenaga kerja. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa penyedia layanan pendidikan (tidak semuanya loh..) TERNYATA belum bisa memahami kebutuhan para pencari tenaga kerja, demikian sebaliknya..sehingga hal yang kelihatannya kontradiktif terjadi (pencari kerja dan pencari tenaga kerja sama-sama mengeluhkan susah memenuhi keinginannya)
Akan saya kutipkan penggalan dari harian Kompas :

“Hal itu dikatakan pengamat pendidikan Darmaningtyas, Jumat (8/2). Menurut dia, hal itu melahirkan paradoks: dunia usaha mengeluhkan sulit mendapat tenaga kerja, di sisi lain lulusan sekolah dan perguruan tinggi kesulitan mendapat pekerjaan.
”Terlebih ada kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Mereka tak berani ambil pekerjaan berisiko seperti wiraswasta, trainer, atau penulis. Mereka pilih menganggur,” ujarnya.
Darmaningtyas melakukan studi kasus pada iklan lowongan kerja di harian Kompas Minggu, 6 Januari 2008. Ada 405 lowongan pekerjaan, 4,19 persen mensyaratkan indeks prestasi minimum, lainnya menekankan pada kemampuan kerja individu dan tim, kemampuan berbahasa asing, terutama Inggris, kemampuan mengoperasikan program komputer, kemampuan berkomunikasi, dan pengalaman kerja “

Nah, sekarang tampaklah penyebab ketimpangan/paradoks tersebut…
Akan tetapi pada tulisan kali ini bukan masalah dunia pendidikan atau dunia usaha yang menjadi fokusnya. Yang menjadi titik tekan saat ini adalah, penulis ingin men-share-kan pelajaran yang mudah-mudahan dapat di ambil.

Yaitu asahlah kemampuan Anda dimanapun Anda berada, tentunya dengan keahlian yang Anda minati (yang pasti yang positif..heheheh)

Secara tidak Anda sadari kemampuan itu akan bisa andalkan nantinya, entah itu saat Anda mencari pekerjaan, bahkan disaat Anda bekerja tapi saat lowong (waduh..gue banget..wekekek) Kemampuan tersebut seperti yang diungkapkan Darmaningtyas.
Oleh karena itu mari penulis berikan sebuah ungkapan perasaan..

Jangan Malas..
Jangan sampai sayap-sayap kreatifitasmu mulai lemah..
Belajarlah terbang, walaupun engkau mulai dengan mengepak-epakan sayap kecilmu
Kelak engkau kan sadar..
Latihanmu yang kau anggap memalukan ternyata mampu mengantarmu ke langit nun tinggi di sana..

Tambahan dari penulis kenamaan:
Tidak ada hal besar pernah terjadi di dunia kalau tak ada harapan yang dibesar-besarkan. (Jules Verne)

Arifan Jaya Syahbana


Pengolahan Limbah Pada Kota Bandung

Februari 19, 2008

Siapa sih di antara kita yang tidak risih melihat banyaknya sampah yang teronggok tanpa adanya penanganan lebih lanjut? Ketika berjalan melewati gang kecil di daerah sempit di pinggiran kota Bandung saya pribadi merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang ada. Sampah telah membuat pemandangan tidak enak, bau busuk menyebar, belum lagi sampah yang telah terbungkus rapi dalam bak plastik kembali diacak-acak oleh kucing yang mungkin kebetulan telah mencium aroma makanan yang disukainya, kemudian disambung dengan adanya kecoa, lalat, bahkan tikus yang seenaknya keluar masuk dari tempat sampah tersebut.
Beberapa langkah di bawah ini dapat dilakukan guna mengatasi penumpukan sampah yang terjadi di beberapa kota Bandung, diharapkan dengan adanya ini maka sampah dapat teratasi sehingga kesan kota yang dingin, asri ini tidak tercemar ataupun ternodai dengan adanya polusi yang di sebabkan oleh limbah ini :
1. Penyediaan tong sampah yang sudah tertulis untuk sampah organik dan anorganik
Setidaknya dengan adanya ini maka sampah akan terpilah-pilah sehingga untuk proses selanjutnya dapat lebih mudah. Seperti yang kita tahu bahwa penanganan untuk tiap jenis sampah berbeda, untuk organik dapat kita jadikan pupuk kompos, kemudian untuk sampah anorganik, seperti plastik, karet, logam, dan lain sebagainya dapat kita daur ulang menjadi beberapa barang yang dapat berguna kembali, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah suatu barang, dari yang tidak berharga menjadi barang bervaluable tinggi.
2. Pengolahan limbah menggunakan M Bio
Penanganan limbah ini sebenarnya sudah dimulai dari Universitas Siliwangi Tasikmalaya,. Ternyata berdasarkan penelitian yang dilakukan selama beberapa waktu di dapatkan hasil yang menggembirakan, fermentasi sampah dengan mengunakan M Bio dapat menghasilkan pupuk yang terbukti keunggulannya. Prof. Dr. Rudi Priyadi, Pembantu Rektor I Unsil, yang juga penemu teknologi M-Bio ini menyatakan cara ini sangat efektif untuk mengatasi masalah sampah, cara ini juga telah diaplikasikan melalui kerja sama dengan Universitas Teknologi Malaysia dalam mengatasi masalah sampah padat dan cair nantinya. Untuk lebih lengkapnya silakan lihat di sini.
3. Pembentukan kelompok entrepreneurship pengolah limbah
Pembentukan kelompok entrepreneurship ini selain dapat mengatasi masalah sampah juga dapat meningkatkan penghasilan keluarga. Sebagai contoh, di Jakarta, sebuah kelompok yang terbentuk dan beranggotakan sekitar 5 orang membeli barang modal yang dibeli per kg 1000 atau 4000 per kg dari pemulung. Kemudian diproduksi menjadi barang produksi yang bernilai ekonomis tinggi seperti tas besar, tas belanja, sandal, dan dompet.. Lebih lengkapnya lihat di sini.
Masih banyak lagi langkah yang bisa dilakukan dalam pengolahan limbah di kota Kembang ini, tulisan di atas hanya merupakan puzzle kecil dalam pemecahan masalah sampah yang terjadi di lingkungan kita. Semoga tulisan yang singkat ini dapat memberikan perubahan berarti bagi kita semua.

Arifan Jaya Syahbana